Pembantaian

Nyeri di sekitar tubuh sangat terasa. Bahkan kau bisa mendengar suara dari detak jantungmu sendiri. Entah apa yang membuatnya memompa darahmu dengan begitu cepat. Membuat keringatmu merembes dari bagian-bagian tubuhmu. Dimulai dari belakang telingamu, terus merembet ke leher, lalu turun ke belahan dadamu sehingga menciptakan rasa geli dan gatal yang kurang ajar.

Tahu kamu apa yang dialami seseorang saat ia ketakutan? kakinya kaku sehingga membuatnya kesulitan untuk melangkah. Dan di saat otakmu ingin agar kau berpikir positif dan berusaha mengucapkan everything is okay, jantungmu tidak mau diajak bekerja sama dan terus memompa darahmu lebih cepat. Lidahmu kelu, ia berkhianat. Tanganmu menjadi dingin, kaku, dan pucat sebab arteri yang bertugas memasok darah kesitu sedang mengalami penyempitan, menyebabkan sirkulasi darah terhambat.

Keringat keluar dari pori-pori tubuhmu, leher, punggung, dan dahi. Di dahi lah yang paling membuatmu khawatir, sebab ia akan turun ke pipimu, ke hidungmu, ke pelipismu yang berakibat kacaunya penampilanmu. Sial bagimu jika tidak membawa tissue. Mengusapnya dengan tangan sehingga foundation Maybelline seharga lima puluh ribu menempel di tangan dan membuat wajahmu belang. Kau juga tidak bisa mendengar suaramu sendiri atau bisa jadi kau mengalami skizofrenia karena terlalu banyak suara-suara di kepalamu dan mulai berpikir apakah ini saat yang tebat buatmu untuk menjadi gila.

Kau menjadi orang yang sangat plin-plan dalam situasi seperti ini. Menyalahkan waktu karena bergerak begitu lambat. Kau berpikir sebaiknya cepatlah urusan ini selesai sehingga ketakutan lekas pergi dan kau bisa normal kembali. Normal? apa kau yakin setelah kau memasuki ruangan itu hidupmu bisa kembali normal? Berharap semuanya baik-baik saja seperti sebelum kau memasukinya. Tapi tunggu, bahkan sebelum kau memasukinya pun kau tidak terlihat baik-baik saja dan ketakutan berada di sekelilingmu. Bagaimana jika ini tidak berjalan lancar dan memasukinya malah menggiringmu ke tempat pembantaian? Tentunya kau sangat tersiksa membayangkan dirimu menjadi gila di usia yang begitu muda.

Kemudian kau berbalik menyalahkan waktu karena berjalan begitu cepat. Kau membayangakan seandainya kau bisa mengendalikannya, tentunya kau akan berlama-lama menyiapkan bekal, menyiapkan tenaga dan juga mental untuk menghadapi maut di ujung sana. Tapi apakah waktu itu? Sesuatu abstrak yang bahkan kehadirannya pun tidak disadari oleh manusia. Tiba-tiba ia sudah ada di pikiran setiap orang dan menjadi bagian darinya. Entah manusia yang cepat atau sang waktu yang melambat ataupun sebaliknya, dia hanya berada di jalurnya sendiri. Tetap, tegas, dan tak peduli.

Waktumu tiba, namamu dipanggil. Kau berjalan menuju ruangan yang hanya dirimulah yang bisa menentukkan seperti apa nanti ruangan itu berwujud. Apakah ia akan seperti nirwana yang sering kau imajinasikan saat membaca buku mahabarata atau seperti neraka yang di dalamnya bersemayam sosok Dewi Durga.

Kau berjalan sangat tenang sampai kau sendiri tidak yakin sebenarnya kau ini berjalan atau mengawang. Dinginnya udara terabaikan oleh kekhawatiran. Kau duduk membungkuk, menekan perutmu yang terasa ngilu, seperti ada air panas yang mendidih di sana.

Persis di depanmu kau memperhatikan sesosok tubuh dengan waspada. Kau tidak ingin melewatkan sedikit pun perubahan dari ekspresi wajahnya, penting sekali bagimu. Sebuah keputusan yang membuatmu apakah setelah keluar dari ruangan ini kau bisa hidup normal, amnesia, atau gila.

Sosok di depanmu mengerutkan alis. Pertanda buruk, pikirmu. Tapi kau masih berusaha menenangkan diri. Selama sosok di depanmu masih mengerutkan alis, kau aman. Berada di tengah-tengah antara surga dan neraka. Merasakan semilir angin yang berhembus dari surga. Membelai kulitmu, menyejukkan.

Hawa panas datang tiba-tiba, perutmu seperti ditekan alu, keringat dingin merembes. Mulut sosok di depanmu menyeringai. Lamunanmu tentang surga buyar seketika.

“Saya kan sudah bilang, membuat discussion of major findings itu bukan seperti ini. Saya sudah ajarkan itu di semester 6. Kenapa kamu tidak memperhatikan? Baca skripsi saya. Di chapter sebelumnya juga sudah jelas. Tinggal beropini saja. Gitu aja kok gak bisa.”

Dewi Durga membuka gerbang neraka, pembantaian dimulai.

The last rain in the end of Desember twilight

She wanted to stop the rain

which had been a long time watering her pain

“it’s exhausting”. she said

“it has been a long time”

She buried them through the words

Which would never made a poem by her heart

She felt empty

No voices heard in the end of twilight

Fade and die

Twilight who accustomed to listen her story began to ask

“Why are you going to stop the rain?”

She answered “I’ll make a poem about all the days that had been passed by the rain.”

It’s enough about the feelings I am buried

Tell Desember that she will never get the rain

Because I’ve finished them already

But, I left some behind

It’s a memory of hopes that failed to be wished

Let it become the last rain in the end of Desember twilight

She’ll knows

That it will come to her with full of hopes

Kelahiran Nabi

Kelahiran sang nabi

Tinggalkan sebentar hiruk pikuk duniawi

Silahkan mendekatkan diri

Mengemis syafaat untuk hari akhir nanti

Barangkali beliau masih mengasihi

Kepada yang katanya mencintai tapi masih mengkhianati

Tak usah membawa nama politik, madzab, ataupun organisasi

Karena nanti, itu tak akan berguna lagi

Tak mungkin di akhirat nanti nabi menanyai

Kamu liberal atau demokrasi?

Musik klasik

Tau kau kenapa aku sangat menyukai musik klasik? Mungkin kau tidak peduli tapi aku akan tetap memberitahunya.

jika kau dengarkan lagu love story yang dinyanyikan oleh si cantik Taylir Swift, maka kau akan langsung tahu bahwa lagu itu menceritakan tentang kisah cinta. Perfect yang didengungkan oleh Ed Sheeran, kau akan langsung tahu bahwa itu adalah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang jatuh cinta kepada teman masa kecilnya. Tapi cerita apa yang bisa kau ambil dalam Spring waltz yang dikumandangkan oleh Frederich Chopin? perasaan apa yang dirasakan oleh Johann Pachelbel saat ia menulis si fenomena Canon in D ?

Jika musik sekarang disebut sebagai peradaban, maka musik klasik adalah mahakarya abadi, Masterpiece. Bisakah seseorang menceritakan makna atau cerita di balik musik klasik? Tidak ada kata-kata di dalamnya. Yanga ada hanyalah nada yang mengalun sempurna. Di situlah aku menyukainya. Seakan-akan musik klasik diciptakan untuk orang-orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya lewat aksara. Nada-nada yang mengalun, mengalir melewati saraf-saraf, menstimulasi kinerja otak dan membangunkan Nucleus accumbens. Amygdala melakukan tugasnya, mencipatakan emosi dari sebuah nada. Emosi yang membuka pintu hatimu, mengeluarkan rahasia-rahasia yang kau simpan di dalamnya. Bahkan kau sendiri pun takut untuk memikirkannya.

Mendengarkan musik klasik seperti bermain tebak-tebakan. Komposisi musiknya yang rumit dan nadanya yang terdengar ambigu. Mungkin sang Maestro memang membuatnya demikian. Sehingga si pendengar bisa menyimpulkan maknanya sesuai dengan isi hatinya.

Banyak orang bilang bahwa mendengarkan musik klasik itu membosankan, mengantuk. Memang benar, musik klasik diciptakan untuk memberikan ketenangan, sehingga kita bisa mangkir sejenak dari bisingnya kehidupan. Entah kenapa aku berpikir bahwa para penikmat musik klasik adalah orang-orang yang rumit. Mereka mungkin sengaja diciptakan untuk orang-orang yang memang sulit mengungkapkan perasaan.

Poor Rose

Poor Rose

She had been waiting for her couples in front of the windows

Before was plucked from her glorius

Her life lose

By people who want her with specific purpose

Poor Rose…

Had been waiting for her couple in front of the windows

To save her from the world which is full of volcanoes

Create your website at WordPress.com
Get started